Oleh: alfatih88 | 6 Oktober 2009

Bencana Alam VS Teroris

Seorang ibu menatap reruntuhan puing-puing bangunan sebuah lembaga Bimbingan Belajar tempat dimana salah seorang anak nya ikut jadi korban tertimpa reruntuhan gedung tempatnya belajar, dan saat-saat menunggu usaha yang dilakukan tim evakuasi itulah, beliau mendengar rintihan dari dalam tumpukan reruntuhan banguna tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa,  waktu terus berjalan hingga pagi hari usaha tim evakuasi belum juga membuahkan hasil, seiring dengan hilangnya suara rintihan dari dalam tumpukan reruntuhan bangunan.

Kejadian ini disampaikan oleh ibu yang anaknya belum juga ditemukan sampai siang hari, hari kedua pasca gempa bumi kepada seorang wartawan, sungguh walaupun kita turut merasakan kesedihan seorang ibu yang tidak berdaya menolong buah hatinya, pasti tidak akan mampu merasakan kepedihan seperti yang dirasakan nya.

Ajal memang diluar kekuasaan manusia, bencana sangat tidak diharapkan, dan usaha sungguh-sungguh tim penyelamat sungguh tak ternilai, siang malam terus berikhtiar menemukan dan menyelamatkan korban yang tertimpa reruntuhan, dan seorang ibu yang anaknya belum diketahui nasibnya pasti tak henti-henti nya berdo’a meminta keselamatan puteranya, hanya satu yang membuatnya kecewa, tim penyelamat tidak dapat memaksimalkan ikhtiarnya karena keterbatasan peralatan.

Peralatan yang seharusnya menyertai tim penyelamat ternyata tidak kita miliki dan sebagian terlambat didatangkan ke lokasi kejadian,  padahal bencana alam dahsyat seperti yang terjadi di Sumatera Barat ini bukan yang pertama, Aceh, Jogya, Nias, Pangandaran, dan Tasikmalaya pernah mengalami bencana gempa bumi dan Tsunami yang dahsyat, seharusnya rentetan kejadian tersebut dijadikan pelajaran dan bahan evaluasi dalam mempersiapkan untuk menghadapi akibat bencana alam pada proses evakuasi pasca bencana, persiapan baik berupa dana, peralatan evakuasi dan sumber daya manusia yang terlatih, namun sayang hal itu tidak dilakukan dan kembali terjadi, betapa pemerintah sangat tidak saiap menghadapi bencana alam sehingga kisah memilukan seperti penuturan salah seorang ibu korban harus kita dengar.

Tetapi sungguh, entah bagaimana dan seperti apa dasar pertimbangannya, pemerintah begitu siap, baik sumber daya manusia maupun peralatan dalam menghadapi Teroris, bahkan sampai dibentuk task force anti teror DENSUS 88. Tentu saja ini juga penting, bahkan nampaknya bangsa ini patut bangga, betapa negara sangat sungguh-sungguh melindungi rakyatnya dari ancaman teror, kita menyaksikan belum lama ini bagaimana DENUS 88 dengan personil terlatih dan didukung peralatan canggih(untuk standar Indonesia) melumpuhkan gembong teroris yang telah sembilan tahun dikejar, kemudian mengevakuasi anggota lainnya yang tertangkap hidup-hidup dengan pesawat khusus ke Jakarta, sungguh sangat membanggakan, ternyata negara kita mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam melumpuhkan teroris, padahal untuk memiliki kemampuan seperti itu tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan. Tapi kenapa kita tidak mampu mempersiapkan task force untuk menghadapi bencana Alam?.

Mari kita berharap, semoga kelak tidak ada lagi ibu-ibu lainnya yang harus mengisahkan kepedihannya karena tidak bisa berbuat apa-apa

Semoga


Tanggapan

  1. kajian pangaruh kerusakan hutan pada bencana alam…. berikan komentar kamu ya… untuk sebuah inovasi perlindungan alam di http://ahnku.wordpress.com/2009/10/11/cintai-lingkungan-dengan-efisisensi-kertas/

  2. sudah waktunya para ulama menyampaikan dari sudut pandang agama, akan tanggungjawab manusia kelak dihadapan Allah, ketika tidak merawat dan menjaga cipataan-Nya.

    wallahu’alam

  3. Teroris?salah persepsikah orang orang tersebut?
    Kita ga bisa nyalahin pendapat seseorang, dimata mereka apa yang mereka lakuin benar, tp di mata kita itu salah. Sekarang yang mana, salah ato bener? Bukan perkara benar atau salahnya yang penting, tapi bagaimana kita menyelesaikan sesuatu bersama sama…bukan dengan ngelakuin semuanya sendirian, tanpa pertimbangan orang lain, tanpa memperdulikan pendapat orang lain…lalu seenaknya memutuskan bahwa “inilah yang terbaik.”

  4. Selalu punya sisi dua mata uang, tergantung dari sisi mana melihat penomena aksi bom bunuh diri. Sudah pasti kalau tempatnya disisi Islam phobia atau paling tidak sekuler, terorislah pendapatnya.terimakasih komentarnya.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.